Banyak Risiko, Jemaah Diminta Tak Pakai Joki 'Mukimin' di Masjidil Haram
compasdailynews, Makkah - Joki mukimin atau orang Indonesia yang tinggal di Arab Saudi menjadi incaran para petugas keamanan di Masjidil Haram. Bagi Anda para jemaah yang ingin beribadah, diimbau tak menggunakan jasa mereka karena berisiko tinggi.
Wakil Kepala Sektor Khusus Masjidil Haram Harun Al Rasyid menerangkan, ada dua kasus penangkapan joki mukimin pada dua hari lalu, atau Senin (22/8) lalu. Yang pertama, terjadi sekitar pukul 02.00 dinihari waktu Saudi. Saat itu, ada dua jemaah yang dalam kondisi lanjut usia atau risiko tinggi butuh bantuan. Mereka menggunakan jasa mukimin untuk melakukan thawaf dan sa'i. Namun para mukimin itu ternyata terdeteksi petugas keamanan Haram sehingga akhirnya ditangkap.
"Mukimin tersebut tiba-tiba ditangkap oleh polisi Arab Saudi yang bertugas di Masjidil Haram wilayah sai dan tawaf. Kemudian dengan mendadak mereka tinggalkan itu jemaah kita," papar Harun saat diwawancarai di kantornya.
Dua jemaah itu akhirnya mendapat pertolongan dari petugas sektor khusus. Tim kemudian membantu para jemaah menyelesaikan sa'i sampai proses tahalul. Setelah itu, jemaah diserahkan ke pemondokan sektor masing-masing.
Berselang satu jam kemudian, kejadian serupa terjadi arena sa'i lantai dua. Ada delapan jemaah yang telantar karen joki mukimin yang mereka sewa ditangkap oleh polisi Masjidil Haram. Jemaah itu tercecer kebingungan dalam kondisi kurang baik kesehatannya.
"Akhirnya kami dengan teman-teman langsung kami lanjutkan sa'i nya dan kami hubungi kepala sektornya," kata Harun.
Harun mengimbau agar para jemaah tidak menggunakan joki mukimin selama di Masjidil Haram. Selain berisiko tinggi ditangkap aparat, mereka juga mematok tarif yang cukup mahal. Harun menyarankan agar para jemaah lansia menggunakan para pendorong atau joki resmi berseragam di Masjidil Haram. Tarif mereka rata-rata masih relatif murah.
"Harga resmi yang ada di masjidil haram kurang lebih untuk sai dan tawaf cukup murah yakni 200 riyal. Jasa mukimin di luar lebih mahal harganya," tambahnya.
"Kalau harga sa'i aja bisa kita tawar 75 riyal. Awalnya 100 riyal dan bisa ditawar 75 riyal. Bahkan bisa 60 riyal. Tergantung pendekatan kita pada mereka," sambungnya.
Menurut Harun, walaupun para mukimin itu menggunakan atribut layaknya jemaah haji seperti memakai ihram, gelang atau tas, namun mereka sudah dikenali oleh para petugas keamanan. Gerak gerik dan gelagat mereka sudah diketahui. Karena itu, selalu terancam oleh keberadaan aparat Haram.
"Dari gelagatnya sudah diketahui dan akhirnya ditangkaplah. Jadi, kasektor (kepala sektor), karom (kepala rombongan) mengimbau para jamaahnya untuk tidak lagi mengambil risiko menggunakan jasa mukimin dari luar," imbuhnya.
"Mukimin juga diimbau untuk tidak mengambil risiko ini. Karena pengawasan di masjidil haram begitu ketat. Ancamannya bisa dideportasi kalau tidak punya izin tinggal," sambungnya. (mad/bag)
0 Response to "Banyak Risiko, Jemaah Diminta Tak Pakai Joki 'Mukimin' di Masjidil Haram"
Post a Comment